Zona Promo

dumaizone.com  
Sabtu, 30 Mai 2020  
 
 
DEPAN
 
 
 
Jalan-jalan ke Kota Medan, Istana Maimun Tujuan Wisata Andalan
Dipostingkan pada 4 April 2020 | 17:07 WIB
 
Bila ingin pergi melalak, jalan-jalan ke Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia, maka yang pertama terbayang dalam alam fikiran itu adalah ingin melihat destinasi wisata warisan sejarah kebudayaan, yaitu Istana Maimun. Begitu masyarakat banyak mengenal objek wisata yang menjadi ikon kota ini. Padahal, nama sebenarnya tertulis adalah Istana Ma’moen.

Benar. Saat kita berkunjung ke Istana peninggalan Kesultanan Deli ini, decak kagum kita tercurah kepada Sultan Ma’moen Al Rasyid. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Istana bergaya aksitertur Melayu, Mughal, dan Belanda ini, dibangun di masa kesultanannya. Dimana awal kontruksinya dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai 18 Mei 1891.

Pembangunan Istana yang berukuran luas 2. 772 M2 ini menghabiskan dana sebanyak 1.000.000 Gulden masa itu. Istana yang dirancang arsitek Italia Majoor Theodoore van Erp itu memiliki 30 ruangan. Bangunan Istana dengan dua lantai ini juga terdiri dari 3 bagian, yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri, dan bangunan sayap kanan.

Istana Maimun yang berada di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Aur, Medan Maimun, Kota Medan, itu dibangun menghadap ke Utara dan pada bagian depannya dilengkapi dengan bangunan rumah ibadah, Masjid Al-Mashun. Kini, Masjid peninggalan Sultan Deli ini lebih dikenal dengan Masjid Raya Kota Medan.

Dengan desain yang unik, perpaduan antara kebudayaan Melayu yang kental dengan nuansa Islaminya dengan kebudayaan Spanyol, India, Belanda, dan Italia, membuat destinasi wisata sejarah kebudayaan ini menjadi tujuan wisata andalan. Selain itu, jelas tak terkecuali karena usia Istana ini yang sudah tua.

“Dengan berwisata ke Istana Maimun ini kita dapat pemahaman bahwa dunia arsitektur, kebudayaan, ekonomi, dan ilmu pengetahuan sudah berkembang dengan baik di masa Kesultanan Deli tersebut. Bahkan, dengan kondisi Istana yang ada saat ini kita pun dapat membayangkan bahwa taraf hidup masyarakat masa itu tentunya cukup baik,” ujar Cut Laila, seorang pengunjung Istana Maimun dari Kota Dumai, beberapa waktu lalu.

Selain kemegahan gedung Istana, ada beberapa benda peninggalan sejarah yang menjadi pusat perhatian pengunjung. Diantaranya adalah seperti Singgasana, Balai Room Sri Istana Ma’moen, Balai Santapan, Meriam Puntung, dan Panca Persada.

Singgasana

Singgasana yang terletak di ruang Balai Room Sri Istana Ma’moen ini adalah Singgasana yang dibuat untuk acara pernikahan anak Sultan ke-11, Sri Paduka Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah. Putri Sultan yang bernama Tengku Maheran melangsungkan perkawinan dengan Tengku Murad Aziz, anak Sultan Langkat, Sultan Abdul Aziz.

Selain itu, ada sebuah Singgasana Kesultanan, tempat duduk Sultan. Di sini Sultan duduk saat mengadakan acara atau saat menerima laporan dari petinggi Kesultanan dalam menjalankan aktifitas kerajaan di Istana maupun aktifitas yang berhubungan dengan rakyatnya.

Balai Room Istana Ma’moen

Sekilas difahami bahwa Balai Room Istana Ma’moen awalnya digunakan untuk menerima tamu kesultanan. Namun, setelah itu bukan sekadar untuk menerima tamu, tapi sebagai tempat berbagai kegiatan atau acara Sultan. Dimana pada ruangan ini dihiasi dengan perpaduan ornamen Kebudayaan Melayu, Kebudayaan Timur dan Kebudayaan Barat.

Ornamen Melayu pada ruangan ini terlihat pada warna ruangan dan bangunan dan sebagian ukiran dinding. Sementara Budaya Timur terlihat dari lekukan-lekukan arca dan bentuk-bentuk jendela, kemudian lukisan yang terdapat di langit-lagit atap dan pada sebagian dinding. Sedangkan Kebudadyaan Barat, seperti Eropa, Sepanyol, dan Italia, itu terlihat pada prabot-prabot yang ada di ruangan. Semua perabot, termasuk lampu hiasnya, merupakan barang impor dari Eropa.

Balai Santapan

Di Balai Santapan inilah Sultan menjamu tetamunya untuk makan bersama, dengan aneka santapan khas Melayu. Meja makan yang ada di Balai Santapan itu berasal dari Italia dan juga ada kursi di Balai Santapan ini yang berasal dari hadiah Ratu Kerajaan Hindia Belanda untuk Sultan Deli. Kabarnya, kursi tersebut tak pernah diduduki Sultan, hanya sebagai barang pajangan.

Meriam Puntung

Benda bersejaran Meriam Puntung adalah senjata perang yang diyakini kesaktiannya. Benda pusaka ini awalnya milik Kerajaan Haru. Sebuah kerajaan besar yang menguasai wilayah Sumatera Timur. Dimana pada masa itu Kerajaan Deli merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Haru.

Namun, pada tahun 1632, Kesultanan Aceh menaklukkan Kerajaan Haru. Pada saat perang itu pasukan Kesultanan Aceh dipimpin Panglima Gocah Pahlawan. Atas kemenangan itu, Kesultanan Aceh menyerahkan wilayah Kesultanan Deli kepada Panglima Gocah Pahlawan. Sang Panglima ini dinobatkan sebabai Raja Deli pertama.

Meriam Puntung yang merupakan benda pusaka yang diyakini kesaktiannya itu dirawat sejak Raja Deli pertama dan selanjutnya terus dirawat oleh raja-raja berikutnya.

Panca Persada

Batu berbentuk lingkaran yang terletak di halaman Istana Maimum itu disebut Panca Persada. Benda ini digunakan untuk acara bersiram pada saat prosesi penobatan Sultan. Di atas batu yang berbentuk seperti Singga Sana itu Sultan duduk untuk bersiram dalam proses pembersihan diri.

Pihak pengelola Istana Maimun menyediakan pakaian kebesaran Melayu untuk disewa bagi para pengunjung yang ingin mengabadikan perjalanan wisatanya di Istana ini. Para pengunjung pun bersuka ria berfoto dengan memakai pakaian kebesaran Melayu. Sebagai bukti untuk dikenang. Lokasi foto yang sangat paforit yang dipilih pengunjung adalah di Singga Sana.

Selain menyewakan pakaian kebesaran Melayu lengkap dengan Tanjak dan kerisnya bagi laki-laki, pihak pengelola Istana Maimum juga menyediakan berbagai sovenir khas Melayu untuk dijual sebagai buah tangan bagi para pengunjung. Diantaranya adalah kain songket Melayu, peci, dan berbagai barang pajangan lainnya.

“Menghabiskan waktu seharian di Istana Maimun rasanya terasa singkat. Sekali berkunjung rasanya tak puas. Kita hanya bisa mengetahui sekilas tentang Istana dan benda-benda peninggalan Kesultanan Deli. Maunya ke sini lagi lain kali, supaya bisa mengetahui lebih banyak sejarah kebesaran Kesultanan Deli yang berkuasa di wilayah Timur Sumatera kala itu. Kapan ya?” ucap Cut Laila.***(melalak.net/yusnaidi abdullah)

 
 
 
 
 





 
 
 
 
Elga Naldy
 
 
 
 
Ragam Info  
 
 
21 Januari 2013 | 10:03 WIB
Percayakan asuransi Anda pada AJB Bumiputra 1912. Info lebih lanjut hubungi Marketing Dumai Sri Susilawati, SH di nomor 085271972633. Kami memberikan ....

 
17 Desember 2010 | 15:20 WIB
AMAZONE MULTIJASA memberikan pelayanan dalam pembuatan stempel, kartu undangan, kartu nama, photocopy, jilid, stiker, advertising, neon box, spanduk, ....

 
21 Oktober 2010 | 21:45 WIB
Jika Anda ingin menjual barang: mobil, sepeda motor, tanah, rumah, dan lainnya, kirimkan foto dan keterangan barang, serta harga yang ditawarkan ke du ....

 
 
© 2009 dumaizone.com