Zona Promo

dumaizone.com  
Rabu, 25 November 2020  
 
 
DEPAN
 
 
 
Kota Bukittinggi Menukilkan Kenangan, Pelataran Jam Gadang Menjadi Saksi
Dipostingkan pada 5 Agustus 2020 | 09:25 WIB
 
Usai main air di Kapalo Banda Taram, kami pun meluncur ke Kota Bukittinggi. Hanya butuh waktu lebih kurang satu jam, kami pun sampai di kota wisata itu.

Kota Bukittinggi yang memiliki luas 25,24 km2 memang kota wisata andalan, karena semua ada di sini, seperti destinasi wisata alam, wisata sejarah, wisata margasatwa, wisata kuliner, wisata belanja, dan lainnya.

Alamnya memang indah. Dihiasi hamparan sawah, lembah dan ngarai, dikelilingi bukit-bukit, serta diapit pula oleh dua gunung, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Bumi nan hijau dan udara yang dingin, membuat kita betah berlama-lama di Kota Bukittinggi. Apatah lagi, penduduknya yang ramah, plus aneka makanan yang lezat-lezat.

Sesampai di Bukittinggi, sasaran utama adalah mampir di pelataran Jam Gadang. Meskipun sudah berulang kali ke sini, namun kita tak bosan-bosannya untuk singgah.

Jam Gadang yang berlokasi Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh merupakan ikonnya Kota Bukittinggi. Sebagaimana di Jakarta ada Monumen Nasional (Monas) dan di Kuala Lumpur, Malaysia, ada KLCC.

Lokasinya strategis, yang terletak di pusat Kota Bukittinggi. Berada di pelataran Gadang ini, para pengunjung tidak kesulitan untuk menuju ke objek wisata lainnya.

Pengunjung yang ingin berwisata belanja bisa langsung menuju ke Pasar Ateh yang berada di samping pelataran Jam Gadang. Di sekitarnya juga ada Plaza yang siap memanjakan pengunjung.

Penat berjalan berkeliling di dalam pasar, pengunjung pun dapat istirahat sembari menjajal aneka kuliner khas rang minang yang berada di seputaran pasar dan Plaza.

Dari pelataran Jam Gadang, pengunjung juga dapat jalan kaki untuk menuju objek wisata lainnya, seperti Lubang Japang, Kebun Binatang, Museum dan Monumen Perjuangan Bung Hatta, Janjang 40, Benteng Fort De Kock, Jembatan Limpapeh, dan lainnya.

Selain bisa bermain di pelataran atau seputaran taman Jam Gadang, pengunjung pun bisa berkeliling naik kereta kuda (Bendi) dari Pasar Ateh ke Pasar Bawah dan kembali ke Pasar Ateh.

Dari berbagai literatur disebutkan bahwa Jam Gadang dibangun tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada HR Rookmaaker, selaku Sekretaris Fort De Kock pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Jam Gadang berdiri sekitar 26 meter di tengah taman Sabai Nan Aluih. Tahun 2018, area ini mengalami revitalisasi menjadi taman, dengan tetap memertahankam unsur budaya yang ada.

Konon katanya, konstruksi Jam Gadang tidak menggunakan rangka logam dan Semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, putih telur dan pasir.

Sementara mesin jamnya adalah barang langka yang diproduksi pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Mesin jam jenis ini kini hanya ada dua dunia ini, yang satu di Jam Gadang Bukittinggi, yang satunya lagi di menara jam Kota London, Inggris.

Kota Bukittinggi telah menukilkan kenangan. Kenangan bagi banyak orang. Bahkan, juga meberikan kenangan yang tak ternilai bagi bangsa ini.

Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah.

Pada zaman kolonial Belanda, kota ini disebut pula dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra.

Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, seperti Sang Proklamator Mohammad Hatta.

Begitu pula, tokoh bangsa dari daerah ini bernama Assaat, pernah menjadi pejabat presiden Republik Indonesia.

Kali ini, kenangan kami saat-saat berada di seputaran pelataran Jam Gadang, Kota Bukittinggi, sangatlah berkesan. Kebersamaan kami membuahkan kenangan yang berbalur kegundahan.

Sore hingga malam kami meluangkan waktu yang tersisa bersama anak kedua kami, Syaza Ulya. Hanya tinggal hitungan jam kami bersamanya, sebelum si kakak diantar masuk ke Pondok Ma'had Mulazamah Al Huffazh di Payakumbuh.

Seakan uminya tak ingin melepaskan pelukannya. Bergemuruh di dada. Bercampur baur rasa, seakan tak percaya bahwa sudah tiba waktunya bagi si kakak untuk memulai hidup mandiri.

"Ya Allah, tak kuat rasanya …..," lirih Cut Laila ZA, Uminya Syaza Ulya, sembari menahan sesak di dada. Matanya pun ikut berkaca-kaca.

Suasana itu membuat luluh hati. Betapa tidak, setelah saat itu tak terdengar lagi gelak tawanya. Tak tedengar lagi rengekannya. Tak terlihat lagi wajah senyum dan cemberutnya, yang selama ini mengisi hari-hari kami.

Jam Gadang menjadi saksi. Rintihan hati yang hanya bisa mendo'akan agar si kakak mampu menghadapi segala persoalan yang akan dihadapi dalam melaksanakan segala aktifitas.

Dari pelataran Jam Gadang ini, kami ucapkan, "Selamat berjuang anakku, Syaza Ulya!"***(melalak.net)
















 
 
 
 
 





 
 
 
 
Muhammad Said Didu
 
 
 
 
Ragam Info  
 
 
21 Januari 2013 | 10:03 WIB
Percayakan asuransi Anda pada AJB Bumiputra 1912. Info lebih lanjut hubungi Marketing Dumai Sri Susilawati, SH di nomor 085271972633. Kami memberikan ....

 
17 Desember 2010 | 15:20 WIB
AMAZONE MULTIJASA memberikan pelayanan dalam pembuatan stempel, kartu undangan, kartu nama, photocopy, jilid, stiker, advertising, neon box, spanduk, ....

 
21 Oktober 2010 | 21:45 WIB
Jika Anda ingin menjual barang: mobil, sepeda motor, tanah, rumah, dan lainnya, kirimkan foto dan keterangan barang, serta harga yang ditawarkan ke du ....